Dugderan, Festival Sambut Ramadhan Warga Semarang, Digelar 147 Tahun Lalu - Selayang Kabar

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 12 Maret 2023

Dugderan, Festival Sambut Ramadhan Warga Semarang, Digelar 147 Tahun Lalu

Dugderan, merupakan festival  dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang diadakan oleh warga Semarang. Kegiatan ini telah digelar Sejak 147 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1881. Festival Dugderan ini dimeriahkan oleh banyak atraksi, yang salah satunya menampilkan maskot khas Dugderan, yaitu Warak Ngendhog.


Dugderan, festival warga Semarang yang sudah berlangsung sejak 147 tahun yang lalu
(foto : koropak)


SELAYANGKABAR.COM - Satu minggu menjelang dimulainya Bulan Suci Ramadhan, warga Semarang mengadakan festival khas Kota Semarang.


Festival tahunan ini dikenal dengan nama Dugderan.


Festival Dugderan ini menandai akan dimulainya ibadah puasa di bulan suci Ramadan.


Perayaan Dugderan  dibuka oleh wali kota Semarang dan dimeriahkan dengan menyalakan mercon serta kembang api.


Nama dugderan merupakan gabungan dari dua kata, yaitu "dug" dan "der.


"Dug" adalah suara bedug yang dibunyikan saat akan melakukan ibadah shalat Maghrib.


Berikutnya "der" diambil dari suara mercon / petasan, sebagai tanda memasuki bulan puasa.



Dugderan merupakan sebuah kegiatan perayaan khas Kota Semarang yang diadakan setiap tahun.


Perayaan ini diadakan pada bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam, dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.


Dugderan adalah perayaan rakyat Semarang. Perayaan ini dihadiri segenap warga kota Semarang dari berbagai lapisan masyarakat, usia, dan kelompok etnis.


Dalam perayaan dugderan ini masyarakat Semarang disuguhi berbagai pertunjukan budaya serta kuliner khas daerah yang sangat beragam.


Bagi warga kota Semarang, Dugderan merupakan ajang silaturahmi antar warga untuk mempererat tali persaudaraan.


BACA JUGA :

Warak Ngendhog, Maskot Pemersatu Antar Entis Warga Semarang


Sejarah Dugderan


Dikutip dari wikipedia, dugderan dilangsungkan pertama kali pada sekitar tahun 1881.


Perayaan Dugderan dibuka oleh Bupati setempat, R.M Tumenggung Ario Purbaningrat.


Perayaan dimulai dengan tanda menyalakan mercon dan kembang api.


Kemudian, acara dilanjutkan dengan arak-arakan kirab budaya yang dipusatkan di Masjid Kauman di Kawasan Johar.


Dikutip dari sumber lain, Sejarah diadakannya dugderan karena pada saat itu sering terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal puasa pada Bulan Ramadhan.


Oleh karena itu, Dugderan dijadikan tanda penetapan awal pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.



Sebelum kegiatan Dugderan dimulai, bupati dan beberapa pejabat setempat mengadakan halaqah atau diskusi yang juga diikuti oleh ulama Masjid Kauman.


Diskusi ini terkait dengan penetapan awal pelaksanaan ibadah puasa.


Hasil halaqah tersebut kemudian diarak oleh Tumenggung Aryo Purboningrat untuk diumumkan kepada warga Semarang, sebagai penanda bulan Suci Ramadhan telah tiba.


Tumenggung menyerukan supaya masyarakat Semarang dapat melakukan ibadah puasa dengan sebaik - baiknya.


Seruan tersebut ditutup diikuti dengan pemukulan bedug berkali-kali, diiringi dengan suara petasan.


Dugderan dilaksanakan selama seminggu sebelum bulan Suci Ramadhan, dan diakhiri pada akhir bulan Sya'ban, atau satu hari menjelang bulan Ramadhan.



Tradisi Yang Tidak Pernah Pudar


Jika dihitung dari awal sejarah dimulainya Dugderan, perayaan ini sudah dilaksanakan selama 142 tahun.


Hebatnya,  perayaan ini tetap rutin dilaksanakan, seakan tradisi ini tidak akan pernah pudar.


Hanya saja ketika pandemi covid, membuat dugderan tidak dapat dilaksanakan sebanyak dua kali berturut-turut.


Kegiatan ini sempat terhenti saat pandemi Melanda. Namun setelah pandemi mereda, di 2022 Dugderan kembali dilaksanakan,meskipun tidak disertai dengan arak-arakan.


Pada Dugderan tahun ini, Rute pelaksanaan arak-arakan atau karnaval dimulai dari Balaikota Semarang menuju Masjid Agung Jawa Tengah.



Untuk memeriahkan acara tersebut , peserta karnaval akan mempertontonkan berbagai ragam atraksi, seni budaya kostum, hingga menghias kendaraan karnaval menjadi  semenarik mungkin.


Dalam tradisi Dugderan ini, terdapat satu patung hewan yang merupakan maskot utama, yaitu Warak Ngendog.


Warak Ngendog merupakan sebuah hewan mitologi yang menjadi simbol atas filosofi kegiatan Dugderan ini.


Warak ngendog diambil dari dua kata, yaitu warak dan ngendhog.


Warak dalam bahasa Jawa berarti badak, dan dalam bahasa Arab berarti suci.


Sedangkan Ngendog, merupakan bahasa Jawa yang artinya bertelur.


Secara filosofi, warak ngendhog ini ingin menyampaikan pesan.


Pesan tersebut adalah barang siapa yang dapat menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, nantinya di akhir bulan Suci Ramadhan, akan kembali menjadi bersih dan suci pada Hari Raya Idul Fitri.


Pelaksanaan Dugderan Tahun 2023

Dilansir dari babad.id, berdasarkan laman visitjawatengah.jatengprov.go.id, informasi pelaksanaan dugderan untuk tahun 2023 jatuh akan dilaksanakan tanggal 17 Maret 2023.


Sedangkan kegiatan wahana mainan, wisata kuliner, dan live music sudah dimulai dari tanggal 10 hingga 22 Maret 2023.


Perayaan Dugderan tahun 2023 kali ini, akan dilaksanakan di alun - alun Masjid Agung Semarang dan dibuka dari pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB.***

Dikutup dari berbagai sumber.


HALAMAN SELANJUTNYA:


Post Top Ad

Responsive Ads Here